Ketika kita mendengar istilah Minangkabau, maka yang tergambar dalam fikiran kita adalah sebuah masyarakat yang memiliki sebuah tatanan kehidupan yang sangat tinggi dan memiliki nilai religius yang kental. Hal ini tertuang dalam berbagai aturan yang terdapat pada ketentuan adat, sebagai contoh, “Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah”, Pepatah ini sangat lazim kita dengar di kalangan orang minangkabau, bahkan pepatah ini merupakan filosofi dasar yang harus dimiki dan menjadi simbol dasar yang menyatakan identitas pribadi minang tersebut.
Selain dari pepatah diatas masih banyak petatah-petitih lain yang merupakan filosofi hidup di Minangkabau, seperti yang kesemuanya merupakan tatanan kehidupan yang terdapat di minangkabau. Berbagai fakta sejarah membuktikan kebesaran Minangkabau, mulai dari cara fikir, filosofi hidup dan para tokoh.
Masyarakat Minangkabau yang idealnya memiliki berbagai nilai yang tinggi, kini berangsur bergerak mundur atau bisa disebut pada fase degradasi. Hal ini terlihat jelas pada kurangnya aplikasi nilai dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai kemunduran ini menjadi tanda bahwa sedang terjadi sebuah pergeseran tatanan social, yang dulunya berpegang teguh pada aturan adat dan agama, kini bergeser pada acuan nilai materi.
Degradasi yang muncul sekarang ini tergolong sangat fatal, karena bukan saja terjadi pada nilai, namun pergerakan ini semakin nyata pada aplikasi moral sebahagian masyarakat. Dahulu masyarakat minang sangat menjunjung tinggi nilai moral, sopan santun dan agama, namun sekarang ini semua berangsur pudar.
Sebagai contoh kasus, banyaknya terjadi pertikaian dalam masyarakat yang didasari pada pembagian harta, terjadinya degradasi moral generasi muda dengan kurangnya menghargai orang tua, dan begitu juga dengan orang tua yang sekarang kurang menyayangi generasi muda malahan lebih parahnya menjadikan generasi muda sebagai rival abadi. Selain itu ada beberapa kasus yang terjadi akhir-akhir ini yang sangat mencoreng nama baik Minangkabau, yaitu kasus prostitusi yang kian marak, dan bahkan yang baru-baru ini terjadi adanya penari striptis (telanjang).
Ini semua merupakan contoh nyata bahwa telah terjadi sebuah degradasi moral dan nilai di Minangkabau yang sangat memprihatinkan, yang kesemuanya itu tidak bisa dianggap remeh dan bahkan disepelekan. Pergeseran nilai yang terjadi ini, menuntut untuk terjadinya sebuah gerakan perubahan yang mampu membawa masyarakat minangkabau memahami kembali berbagai tatanan dan aturan yang terdapat di Minangkabau.
Sebagai langkah awal yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan pengenalan aturan dan penegasan sangsi, sehingga masyarakat akan mampu memahami aturan tersebut dan konsekuen akan konsekuensi yang nantinya diterima. Selain itu penanaman secara dini nilai agama dan adat yang benar juga merupakan sebuah solusi cerdas yang dapat dilakukan. Penanaman nilai yang terintegrasi ini, diharapkan akan mampu menciptakan masyarakat yang memiliki pemahaman, tingkat aplikasi dan nilai konsekuensi yang tinggi. Pengintegrasian pemahaman nilai adat dan agama akan menghasilkan sebuah keselarasan yang tidak terpisah, dan tentunya akan menghasilkan kesesuaian dengan filosofi hidup masyarakat minang seperti “Adat basandi Syarak, Syarak basandi kitabullah”, dan “Syarak mangato adat mamakai”. Dengan terlaksananya ini semua maka kita berharap tingkat degradasi ini bisa berangsur berkurang dan berubah menjadi tahapan kejayaan Minangkabau.